Menyikapi penyakit insomnia ku yang makin akut *halah*, semalem setelah abis membaca buku setebal 300 hal sampe jam 4 pagi masih blm ngantuk, pengen nelpon2 sana sini tp udah kepagian dan siapa tau lagi pada sibuk :D, akhirnya bikin susu (atas saran dokter gadungan), sampe akhirnya aku nemu koran Kompas, ada artikel yang belum sempat kebaca dan bikin ngikik-ngikik ngga jelas.
Singkatnya :
Seorang penumpang taksi yang terjebak macan tutul alias macet total di seputaran Jl. HR Rasuna Said di wilayah Kuningan, yang kepentok melihat billboard dengan gambar seorang anak kecil (yang diduga anak sekolah) dan body copy berbunyi gini, "matematika, bahasa inggris = sukses".
"Mengapa yang membuat sukses hanya matematika dan bahasa inggris ? Sebenarnya apa ukuran sukses itu ? "Memang kalau saya pandai menggambar, bisa bahasa China dan Jawa kuno terus saya tak bakal sukses ?" begitu pikiran saya jungkir balik kaya sirkus."
"Jalan masih saja tersendat. Jalur busway yang seyogianya untuk bus malah dipenuhi kendaraan pribadi. Mereka ingin cepat sampai di tujuan. Saya menyarankan sopir taksi untuk melanggar seperti para pengendara mobil pribadi, tetapi sopir taksi saya tak berani mengambil resiko. Saya tampaknya belum sukses karena tak mampu membuat orang lain memuaskan kehendak saya. Mungkin saya harus bisa matematika dan bahasa inggris".
Kwkwkwkwkw... klo nurutku sukses itu sesuatu yang subjektif, yang penting adalah sejauh mana dia memainkan perannya dengan baik buat orang disekitarnya. Apapun background profesi dia. Dan yang pasti tetep bersyukur.
Lagian ngga ada juga kan yang menuntut petinju sukses sekelas Mike Tyson agar pinter menyanyi atau pinter matematika :p
Tapi secara kodrati, manusia memang musti selalu belajar. When you think best, good is not enough.
**kenapa ngantug selalu dateng terlambat**