Sabtu siang kemarin, teman satu penelitian waktu kuliah dulu dateng ke Jakarta, membawa serta skripsiku yang aku titip sama dia.
Dia bilang, "Din, kalau lihat skripsi ini aku jadi inget waktu kamu jualan donat..."
"Hahaha... " Aku ketawa campur nangis terkenang-kenang.
Saat aku sedang penelitian buat tugas akhirku, meski ada dana dari kampus karena itu proyek dosen, tetep saja aku butuh dana tambahan buat printilan sana-sini. Dan ternyata uang yang kudapat selama karirku sebagai guru privat anak SMP cuma cukup buat membeli beberapa rim kertas kuarto saja sama gorengan. Beasiswa yang kudapat cuma cukup buat nambahin uang SPP. Belum biaya makanku, transport, nyari jurnal, dana gaul dan dana kenakalan lainnya *tsahhh*
Aku harus berpikir keras bagaimana caranya agar tetep bisa mengisi tinta printerku selama laporan yang aku ajukan masih dicoret-coret melulu. Setelah menganalisa market, aku memutuskan untuk menjual donat saja. Modal awalnya ngutang sama kakak. Trus yang bikin resepnya siapa ? yang pasti bukan aku (jangan tanya kenapa). Aku kebagian menjadi spesialis membentuk adonan menjadi donat, yang tentunya kulakukan dengan penuh cinta dan integritas *halagh* (bentuknya kurang lebih sama kaya yg ada di gambar :p). Kesibukan itu kulakukan sambil nonton film taiwan yang lagi booming saat itu, Meteor Garden. Eh itu tahun 2003an yah ? Wahh.. ternyata aku masih muda ! *lirik Kak bonzz* Masih sangat muda :D *ga berani lirik om jul*.
Bagaimana dengan pemasarannya ? Karena waktu itu aku cuma anak kuliahan, jadi kubawa saja daganganku yang spektakuler itu ke kampus.
Hari pertama aku bawa 50 biji donat pake keranjang kue naik bis kota. Mungkin karena masih pagi dan kebanyakan pada belum sarapan, kelenjar-kelenjar dalam hidung para penumpang sangat aktif merespon bau wangi kue menjadi rasa lapar.
Awalnya bapak yang duduk disebelahku berkata :
"Kuenya harum ya mbak.."
"Hehehe, ini donat pak" (sambil nyengir kuda)
"Dijual ya mbak ?"
"Iya Pak, saya mau menjualnya di kampus.." (ga berani nawarin)
"Boleh saya beli buat sarapan?"
(Haduhh.. aku belum nentuin harganya)
"Boleh Pak ! 500an aja.." (dengan ekspresi ngarep)
Bapak itu sukses jadi konsumen pertamaku. Sebelum akhirnya sebelah si bapak ikutan beli, dan ternyata sinyalnya cukup kuat sampai sopirnya juga kepingin. Wah senangnya... donatku lakuuu. Aku jadi terharu. Akhirnya kubawa sisa daganganku ke kampus. Sebelumnya aku mempersembahkan buat dosen kesayanganku untuk tujuan terselubung, promosi. Yang pada akhirnya selama aku jualan, beliau selalu membeli donatku untuk sarapan. Entah karena memang enak atau karena kasihan padaku. Karena aku sibuk ngurusin tabung reaksi, maka aku ngga sempat buka lapak, jadi kutitipkan donatku di kantin. Sama temen penelitianku di kasih brand Dini Donuts *ceilahh* Alhamdulillah donatku selalu menempati rating tinggi di kancah pergorengan di kantin itu. Sebelum akhirnya ada temanku yang baik hati dan tidak sombong mau mengganti peranku membawakan donat-donat itu.
Karena pada saat itu aku memutuskan berhenti jualan donat, disamping aku ingat motto selebritis, Matilah saat kau masih berjaya dan banyak dipuja (ini info yang sangat ngga vaild jd jgn percaya). Alasan yang sebenarnya adalah karena aku sudah mulai sering nginap di lab untuk collect data dan dikejar deadline. Disamping itu aku dapat tawaran menggiurkan jadi asisten proyek lainnya. Wuihh...
Meskipun dalam prakteknya, aku cuma melototin sapi memamah biak sepanjang malam, trus dicatet di kertas report ditemeni partner aneh yang hobinya membahas puisi (salah jurusan kayanya ini anak). Kemana ya, this man ?
Dan itu adalah karir terakhirku sebelum akhirnya aku wisuda. Halaghh karir ...
Ehh... ini cuma ngomongin donat yah ? kok panjang benerrr. Maap maap ^_^